Semangat kemerdekaan dan keberagaman Indonesia terasa kuat melalui lantunan musik dalam konser bertajuk “Alunan Bhinneka Negeriku 4.0 – Harmoni dalam Perbedaan, Melangkah dalam Satu Irama” yang digelar Sekolah Musik Rumah Kecapi di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Minggu malam (9/8/2026).
Sekitar 450 penonton yang terdiri dari orang tua murid dan masyarakat umum hadir menikmati pertunjukan yang melibatkan 200 personel dari berbagai usia, mulai dari 5 hingga 60 tahun. Mereka membawakan 15 lagu, mulai dari soundtrack film Indonesia hingga karya yang pernah dipopulerkan oleh sejumlah musisi ternama, seperti almarhum Chrisye, Sherina Munaf, dan Melly Goeslaw.
Yang membuat konser ini terasa istimewa adalah aransemen musik yang memadukan instrumen tradisional Tiongkok dengan alat musik modern. Guzheng, erhu, pipa, dan dizi berpadu dengan piano, cello, biola, serta drum. Perpaduan tersebut menghadirkan warna musik yang khas sekaligus memperlihatkan bahwa perbedaan budaya dapat bertemu dan menciptakan harmoni.
Owner sekaligus Founder Rumah Kecapi, Olivia Meliana (林丽慧), mengatakan konser tersebut merupakan hasil kolaborasi Rumah Kecapi, Ferlencia Music, dan Surabaya Cello Community. Menurutnya, konser tidak hanya menjadi ruang bagi para siswa dan musisi untuk menunjukkan kemampuan mereka, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisional Tionghoa kepada masyarakat melalui perpaduan dengan musik Indonesia.
“Konser ini merupakan bentuk kepedulian dan rasa nasionalisme dalam merayakan kemerdekaan Indonesia. Kami ingin terus mengembangkan kebudayaan Tionghoa, khususnya dalam bidang musik, tanpa melupakan rasa nasionalisme. Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menciptakan harmoni. Justru dari keberagaman itulah lahir irama yang indah,” ujar Olivia.
Ia menjelaskan, persiapan konser dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Salah satu penampilan yang menjadi bagian istimewa dalam konser tersebut adalah lagu “Sang Dewi” yang dibawakan bersama guest star Amelia Lin.
Hal senada disampaikan Ibu Chennie Susiani (周素贞). Ia mengatakan, konser tahunan Rumah Kecapi menjadi salah satu bentuk kontribusi untuk memperkuat persatuan sekaligus merawat keberagaman yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Ini merupakan kegiatan tahunan Rumah Kecapi sebagai bentuk kontribusi terhadap persatuan dan keanekaragaman Indonesia,” katanya.
Saat ini, Sekolah Musik Rumah Kecapi memiliki tiga cabang di Surabaya, yakni di Jalan Tambak Windu, Jalan HR Muhammad, dan Park Shanghai Pakuwon City. Ibu Chennie berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari musik tradisional Tiongkok, sehingga kesenian tersebut dapat terus berkembang dan dikenal oleh lintas generasi.
Apresiasi juga disampaikan Bapak Totok Sudarto (张国胜), Dewan Penasihat Grup Musik Xiang Yu Hwale (香友华乐队). Ia menilai Rumah Kecapi menunjukkan konsistensi dalam mengembangkan seni musik tradisional Tiongkok di Surabaya.
“Saya selalu berupaya hadir setiap Rumah Kecapi menggelar konser sebagai bentuk dukungan kepada para siswa dan musisi yang terus berkarya. Rumah Kecapi memiliki semangat yang kuat dalam mengembangkan musik tradisional Tiongkok,” ujarnya.
Konser “Alunan Bhinneka Negeriku 4.0” pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan musik. Di atas panggung, beragam instrumen dan latar budaya bertemu dalam satu harmoni. Ratusan musisi dan penonton bersama-sama merayakan kemerdekaan Indonesia melalui cara yang sederhana, tetapi penuh makna.
Lewat musik, konser tersebut menyampaikan pesan bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus dipisahkan. Sebaliknya, perbedaan dapat dipadukan menjadi kekuatan, menciptakan harmoni yang indah, dan melangkah bersama dalam satu irama.
