Sejumlah mahasiswa Universitas Ma Chung mengembangkan MedSign, sebuah sistem berbasis computer vision dan deep learning yang dirancang untuk membantu komunikasi antara tenaga medis dan pasien tunarungu melalui deteksi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Glenn Emmanuel Abraham, Lorensa Amelia, Albert Cheng, dan Albert William Saputra, di bawah bimbingan Dr. Kestrilia Rega Prillianti, S.Si., M.Si. Proposal pengembangan MedSign berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) pada 22 Mei 2026.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan komunikasi yang masih kerap dihadapi pasien tunarungu ketika mengakses layanan kesehatan. Keterbatasan sarana komunikasi dan belum tersedianya penerjemah bahasa isyarat di sejumlah fasilitas kesehatan dapat menyulitkan pasien dalam menyampaikan keluhan, kondisi, maupun kebutuhan medis kepada dokter dan tenaga kesehatan.
“Inklusivitas di fasilitas kesehatan untuk pasien tunarungu sampai saat ini masih sangat kurang. Dengan hadirnya MedSign sebagai penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia, kami berharap dapat membantu mempermudah komunikasi antara pasien tunarungu dan tenaga medis,” ujar Glenn Emmanuel Abraham, ketua tim mahasiswa pengembang MedSign.
Secara teknis, MedSign bekerja dengan menangkap gerakan tangan pengguna melalui kamera. Data visual tersebut kemudian diproses menggunakan teknologi computer vision dan deep learning untuk mengenali pola gerakan yang merepresentasikan bahasa isyarat. Hasil deteksi selanjutnya dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses komunikasi antara pasien dan tenaga medis.
Namun, pengembangan MedSign tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologi dalam mengenali gerakan. Tim juga mempertimbangkan dinamika komunikasi yang terjadi selama konsultasi kesehatan agar sistem nantinya dapat digunakan secara lebih mudah dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, MedSign diharapkan dapat membantu pasien tunarungu menyampaikan informasi mengenai kondisi kesehatan secara lebih mandiri dan mudah dipahami oleh tenaga medis. Teknologi ini sekaligus diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses terhadap layanan kesehatan yang inklusif.
Saat ini, pengembangan MedSign masih terus dilakukan. Tim melibatkan penyandang tunarungu dalam proses pengembangan serta melakukan uji coba bersama tenaga medis di fasilitas kesehatan. Penyempurnaan juga dilakukan terhadap model deteksi dan pengenalan BISINDO agar sistem dapat bekerja secara optimal dalam situasi layanan kesehatan.
“Kami berharap karya tim mahasiswa Universitas Ma Chung ini dapat mendorong masyarakat untuk mendukung aksesibilitas yang setara, baik di fasilitas kesehatan maupun pelayanan umum. Dengan demikian, hak-hak teman Tuli dapat semakin diperkuat dan masyarakat yang lebih inklusif dapat diwujudkan,” kata tim pengembang.
Ke depan, MedSign diharapkan dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk mengurangi hambatan komunikasi yang dialami pasien tunarungu saat memperoleh layanan kesehatan. Pemanfaatan teknologi tersebut juga diharapkan mampu mendukung terwujudnya kesetaraan akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
