Siapa sangka, sosok yang kini dikenal sebagai atlet, pelatih, sekaligus juri barongsai nasional, ternyata mengawali perjalanannya dari seorang anak kecil yang justru takut dengan barongsai. Henri Purnomo mengaku sejak kecil senang menyaksikan setiap pertunjukan barongsai. Namun, setiap kali kepala singa itu mendekat, ia langsung ketakutan. Melihat hal tersebut, orang tuanya kemudian mengajaknya berlatih wushu di Sasana Garuda Emas, Rembang, Jawa Tengah. Keputusan sederhana itu justru menjadi titik awal perjalanan panjang yang mengubah hidupnya.
Saat duduk di kelas 4 sekolah dasar, Henri mulai berlatih barongsai. Dari sekadar rasa penasaran, kecintaannya terhadap olahraga tradisional Tionghoa ini terus tumbuh. Ia mulai mengikuti berbagai festival dan kejuaraan sejak awal 2000-an. Tahun 2005 menjadi langkah penting ketika ia tampil pada Kejuaraan Nasional Barongsai di GOR Jatidiri, Semarang, bersama Sasana Dua Mustika Rembang. Pengalaman tersebut membuka jalan menuju kompetisi yang lebih besar.
Pada 2009, Henri memutuskan bergabung dengan tim Adhi Dharma Surabaya. Bersama tim tersebut, ia menemukan keluarga baru sekaligus ruang untuk terus berkembang. Berkat kerja keras, disiplin, serta kekompakan tim, Henri berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat Jawa Timur maupun nasional. Perjalanannya kemudian berlanjut bersama Tim Yayasan Lima Bakti Jawa Timur yang mengantarkannya tampil di berbagai kejuaraan nasional hingga internasional.
Deretan prestasi pun terus bertambah. Henri mengoleksi medali emas, perak, dan perunggu di berbagai ajang bergengsi, seperti Surabaya ITC Cup, Celebes Open Makassar, hingga Walikota Madiun Cup. Ia juga lolos sebagai atlet Jawa Timur untuk PON XXI 2024 dan berhasil menyumbangkan medali perunggu pada cabang olahraga barongsai kategori tradisional di PON Aceh-Sumatera Utara. Baginya, setiap medali bukan sekadar penghargaan, tetapi hasil dari latihan panjang, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah.
Meski masih aktif di dunia kompetisi, Henri memilih mengambil peran baru sebagai pelatih. Baginya, menjadi pelatih bukan tentang mengejar jabatan, melainkan kesempatan untuk membagikan pengalaman kepada generasi penerus. Ia ingin para atlet muda memiliki kesempatan berkembang lebih baik daripada dirinya, baik dari sisi teknik, mental, maupun karakter.
Komitmen itu dibuktikan dengan mengikuti Sertifikasi Pelatih Nasional yang diselenggarakan Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Jawa Timur bersama Pengurus Besar FOBI pada 1–2 Agustus 2026. Dari 68 peserta yang berasal dari 17 provinsi, Henri berhasil meraih peringkat kedua. Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan atlet.
Henri juga pernah dipercaya menjadi juri pada Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur IX Tahun 2025 di Malang. Pengalaman itu mengajarkannya pentingnya bersikap adil, objektif, dan profesional dalam menilai setiap penampilan, terlebih ketika harus memimpin pertandingan yang diikuti tim-tim terbaik dengan persaingan yang sangat ketat.
Menurut Henri, menjadi pelatih memiliki tantangan tersendiri. Ia harus menghadapi beragam karakter atlet, terus mengikuti perkembangan teknik barongsai, sekaligus menjadi motivator ketika anak didiknya mengalami kegagalan. Baginya, kekalahan bukan alasan untuk menyerah, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Kepada atlet-atlet muda, Henri berpesan agar tidak pernah malas berlatih, selalu terbuka berdiskusi dengan pelatih, dan memperbanyak pengalaman bertanding. "Prestasi tidak datang secara instan. Dibutuhkan latihan yang konsisten, kemauan belajar, serta mental yang kuat," ujarnya.
Henri berharap olahraga barongsai di Indonesia terus berkembang dengan semakin banyak pelatih berkualitas dan kompetisi yang rutin digelar. Ia optimistis, dengan pembinaan yang baik, atlet-atlet Indonesia akan semakin mampu bersaing di level internasional dan membawa nama bangsa semakin dikenal melalui olahraga barongsai.
