Chinese Bridge SD Jatim ke-6 di Khayming School Tampilkan Talenta Muda Bahasa Mandarin - BERITA7TERKINI

BERITA7TERKINI

Aktual Tanpa Jeda

Minggu, 24 Mei 2026

Chinese Bridge SD Jatim ke-6 di Khayming School Tampilkan Talenta Muda Bahasa Mandarin



SURABAYA — Kompetisi Bahasa Mandarin “Chinese Bridge” ke-6 tingkat Sekolah Dasar (SD) wilayah Jawa Timur berlangsung meriah di Khayming School, Sabtu (23/5/2026). Ajang tahunan ini menjadi wadah bagi siswa-siswi SD untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Mandarin sekaligus menampilkan bakat seni dan budaya Tionghoa.


Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut terselenggara melalui kerja sama antara Lembaga Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (LKPBT), Chinese Bridge, dan Khayming School. Peserta berasal dari berbagai sekolah dasar di Jawa Timur.


Ketua Panitia, Miss Vicky (谭维), menjelaskan bahwa sebanyak 25 peserta mengikuti kompetisi tahun ini. Seluruh peserta diwajibkan menampilkan pidato dalam Bahasa Mandarin serta unjuk bakat yang mencakup pertunjukan seni dan keterampilan budaya Tionghoa.


“Dalam satu hari ini mereka tampil di atas panggung dan di akhir acara langsung diumumkan para juara. Setiap peserta diberi waktu 90 detik dengan penilaian dari tiga juri pada babak pertama dan tiga juri lainnya pada babak kedua,” ujar Miss Vicky.


Sementara itu, Ketua LKPBT Jawa Timur, Bapak Soh Sian Gwan (苏先源先生), menyampaikan apresiasinya kepada Khayming School atas dukungan terhadap penyelenggaraan ajang tersebut. Menurutnya, kompetisi ini menjadi sarana penting untuk menumbuhkan minat generasi muda dalam mempelajari Bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa.


“Kompetisi Chinese Bridge digelar selama dua hari. Tanggal 23 Mei 2026 untuk tingkat SD, sedangkan 24 Mei untuk SMP dan SMA. Ini merupakan penyelenggaraan ke-6 untuk peserta SD dan ke-19 bagi SMP/SMA,” jelasnya.


Perwakilan Khayming School, Ibu Lilian Sutanto (陳淑莲), berharap seluruh peserta mampu menampilkan kemampuan terbaiknya. Ia menegaskan pihak sekolah mendukung penuh perkembangan pendidikan budaya dan Bahasa Mandarin di kalangan pelajar.


Dalam kompetisi tersebut, para peserta tidak hanya menyampaikan pidato, tetapi juga menampilkan berbagai pertunjukan seni seperti opera, tari tradisional, hingga drama musikal. Penampilan yang beragam membuat suasana kompetisi berlangsung semarak dan penuh antusiasme.


Adapun jajaran dewan juri dalam kompetisi ini berasal dari berbagai institusi pendidikan, di antaranya Laoshi Zhuông Hăill (庄海莉老师) dari Confucius Institute Universitas Negeri Surabaya, Laoshi Liù Zǐxuān (刘紫萱老师) dari Confucius Institute UNESA, serta Laoshi Sûn Siyǔ (孙思宇老师) dari Confucius Institute Universitas Negeri Malang.


Selain itu, turut bertindak sebagai juri Ibu Jessica Nondolesmono (梁怡佳老师) dari Universitas Kristen Petra, Laoshi Chén Yáng (陈杨老师) dari Universitas Widya Kartika, serta Laoshi Liú Xiánruì (刘贤瑞老师) yang juga berasal dari Universitas Widya Kartika.




Salah satu dewan juri menilai seluruh peserta memberikan kejutan melalui penampilan mereka. Beberapa siswa membagikan pengalaman lucu selama belajar Bahasa Mandarin, sementara peserta lain menyampaikan mimpi dan semangat mereka dalam mempelajari bahasa tersebut.


“Pidato mereka mungkin belum sempurna secara teknik, tetapi mengandung ketulusan dan kecintaan yang murni terhadap Bahasa Mandarin,” ujar salah satu juri.


Meski demikian, dewan juri juga memberikan sejumlah catatan evaluasi. Kemampuan dasar pelafalan Bahasa Mandarin dinilai masih perlu ditingkatkan melalui latihan rutin. Selain itu, konsep pertunjukan diharapkan lebih selaras dengan tema utama, mulai dari pemilihan musik latar, kostum, hingga properti panggung.


Penampilan di atas panggung juga menjadi perhatian tersendiri. Para peserta diharapkan lebih memperhatikan kontak mata dan bahasa tubuh agar penampilan menjadi lebih hidup dan komunikatif.


Antusiasme peserta terlihat dari semangat siswa-siswi yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Salah satunya rombongan dari SD Sinar Harapan Lumajang yang mengaku senang dapat mengikuti kompetisi tersebut.


“Kami senang bisa ikut lomba ini karena bisa mengasah bakat, menambah wawasan, dan mendapat banyak teman,” ujar Maximilan Jason, siswa kelas 3 SD Sinar Harapan Lumajang.


Ajang “Chinese Bridge” sendiri menjadi salah satu kompetisi Bahasa Mandarin bergengsi bagi pelajar yang rutin digelar setiap tahun. Selain meningkatkan kemampuan bahasa, kegiatan ini juga menjadi sarana pertukaran budaya dan membangun rasa percaya diri anak-anak sejak usia dini.


Acara ini juga dihadiri oleh para orang tua/wali murid, guru perwakilan dari berbagai sekolah peserta, alumni, pengurus yayasan, serta tamu undangan. Kehadiran mereka menambah semarak suasana sekaligus membierikan dukungan langsung kepada para pese

rta yang tampil di panggung. (Red)

Pages