SURABAYA – Riuh tawa anak-anak mewarnai Kampung Pecinan Kapasan Dalam, Surabaya, Minggu (5/10/2026). Sehari menjelang malam perayaan Sedekah Bumi yang digelar Senin (6/10/2026), pengurus kampung sengaja menghadirkan suasana meriah khusus untuk anak-anak.
Hiburan badut, musik, hingga permainan berhadiah membuat anak-anak antusias mengikuti kegiatan. Keceriaan mereka semakin lengkap ketika pengurus kampung membagikan makanan, minuman, serta uang kepada anak-anak yang hadir.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, terselip pesan penting tentang pelestarian tradisi. Kegiatan ini menjadi cara sederhana pengurus kampung untuk mengenalkan Sedekah Bumi kepada generasi penerus agar tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad itu tidak berhenti di satu generasi.
Salah satu tokoh Kampung Kapasan Dalam, Awi, mengatakan anak-anak perlu mengetahui bahwa kampung mereka memiliki tradisi Sedekah Bumi yang terus dijaga hingga saat ini.
“Anak-anak perlu mengetahui bahwa kampungnya memiliki tradisi Sedekah Bumi yang sudah dilakukan hingga ke-130. Diharapkan anak-anak meneruskan tradisi leluhur kampung,” jelasnya di sela acara.
Menurutnya, mengenalkan tradisi kepada anak-anak tidak cukup hanya melalui cerita. Mereka perlu dilibatkan dan diberi pengalaman langsung agar tumbuh rasa memiliki terhadap budaya yang diwariskan para leluhur.
Sedekah Bumi di Kampung Kapasan Dalam, yang berada di kawasan Wisata Kampung Pecinan Surabaya, memang memiliki perjalanan panjang. Tradisi tersebut telah dilakukan secara turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari kehidupan warga.
Menariknya, Sedekah Bumi di kampung ini juga mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang hidup berdampingan secara harmonis. Berbagai kesenian turut menjadi bagian dari perayaan, mulai dari wayang kulit, campursari, hingga barongsai.
Tradisi ini bahkan pernah menghadirkan dalang wayang kulit dari warga keturunan Tionghoa, menjadi gambaran kuat bagaimana keberagaman budaya dapat tumbuh bersama dalam kehidupan masyarakat Kampung Kapasan Dalam.
Bagi warga, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa syukur, berkumpul bersama, sekaligus merawat warisan leluhur.
Karena itu, kemeriahan yang diberikan kepada anak-anak sehari sebelum acara utama memiliki makna tersendiri. Di tengah permainan, tawa, dan hadiah, mereka perlahan diperkenalkan pada cerita panjang kampungnya sendiri.
Harapannya, ketika mereka tumbuh dewasa nanti, tradisi Sedekah Bumi tidak hanya menjadi kenangan tentang masa kecil, tetapi tetap hidup dan diteruskan sebagai bagian dari identitas Kampung Pecinan Kapasan Dalam.
