SURABAYA – Suasana penuh kebersamaan terasa di Kampung Pecinan Kapasan Dalam, Surabaya, Selasa (6/10/2026) malam. Warga menggelar Sedekah Bumi ke-130 sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Perayaan tersebut dihadiri warga kampung, akademisi, aparat, jajaran pemerintah setempat, pengurus kampung, dan tamu undangan di antaranya Tjai Yu Fong, Awi, dan Gatot Seger Santoso.
Rangkaian acara diawali doa sedekah bumi yang dipimpin Ki Sudiro. Warga kemudian bersama-sama menyedekahkan nasi tumpeng untuk dinikmati bersama. Suasana semakin semarak dengan pertunjukan barongsai, campursari, hingga ditutup pagelaran wayang kulit.
Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan cerita panjang mengenai sejarah dan kepercayaan warga Kapasan Dalam. Dony Djhung, salah satu sesepuh Kampung Pecinan Kapasan Dalam, menuturkan bahwa kawasan tersebut diyakini pernah menjadi petilasan seorang tokoh sakti.
Menurutnya, keyakinan itu semakin kuat karena pada masa penjajahan Belanda, ketika kampung tersebut dibom, bom yang dijatuhkan disebut tidak meledak. Sejak saat itu, warga menjaga petilasan tersebut sebagai tempat berdoa dan bersyukur.
“Lalu disyukuri dan digelar sedekah bumi dengan pagelaran wayang kulit serta pertunjukan barongsai. Karena wilayah ini kebanyakan penduduknya Tionghoa, Jawa dan Madura, terjadi akulturasi budaya yang baik hingga kini,” jelas Dony.
Tidak hanya menjaga tradisi, Dony menyebut warga Kapasan Dalam juga memiliki sejarah perjuangan. Mereka disebut Buaya Kapasan turut berjuang melawan Belanda karena tidak ingin hidup di bawah penjajahan.
“Prinsipnya Indonesia harus merdeka,” imbuhnya.
Cerita tentang keberagaman itu hingga kini masih terlihat dalam setiap perayaan Sedekah Bumi. Tradisi yang berakar dari budaya Jawa tersebut berdampingan dengan kesenian Tionghoa seperti barongsai, menciptakan perayaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat Kapasan Dalam yang beragam.
Perwakilan Kelenteng Boen Bio, Gatot Seger Santoso, menambahkan bahwa tahun ini perayaan Sedekah Bumi juga memiliki makna khusus karena berdekatan dengan peringatan kelahiran Nabi Konghucu.
“Jadi malamnya sedekah bumi, besoknya perayaan kelahiran Nabi Konghucu. Di sini istimewanya,” jelas Gatot.
Kampung Kapasan Dalam sendiri berada di belakang Kelenteng Boen Bio. Kedekatan secara geografis tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan latar belakang budaya berbeda.
Sementara itu, Ki Dalang Tee Boen Liong membawa lakon Semar Boyong dalam pagelaran wayang kulit. Lakon tersebut dipilih dengan harapan kehidupan dan perekonomian warga Kapasan Dalam semakin baik dan berjaya.
“Saya membawakan wayang kulit di kampung ini sudah 12 kali dan sekarang perayaan yang ke-130. Warga kampung di sini penuh toleransi dan menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Menariknya, semangat akulturasi juga terlihat dari para pengisi acara. Selain dalang berdarah Tionghoa, sinden Angelica juga memiliki darah Tionghoa. Bersama sejumlah sinden dari Blitar, Madiun, dan Surabaya, Angelica membawakan tembang-tembang khas tradisional Jawa.
Malam itu, kampung juga dipenuhi pedagang makanan yang ikut menyemarakkan perayaan. Anak-anak yang hadir pun tidak luput dari perhatian. Awi, salah satu sesepuh kampung, membagikan permen kepada anak-anak sehingga suasana semakin hangat dan meriah.
Sedekah Bumi ke-130 Kapasan Dalam akhirnya bukan sekadar perayaan tahunan. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi ruang bagi warga untuk kembali berkumpul, mengenang sejarah, merawat kebersamaan, dan menunjukkan bahwa perbedaan budaya dapat hidup berdampingan dalam suasana penuh toleransi.
Dari kampung kecil di belakang Kelenteng Boen Bio, pesan tentang keberagaman itu terus diwariskan: tradisi boleh berbeda, tetapi kebersamaan tetap menjadi kekuatan bersama. (Red)
