Berita7Terkini.com | Surabaya – Kampung Mozaik Zero Waste Cities di RT 04 RW 13, Kelurahan Simokerto, Surabaya, mendapat kunjungan delegasi Clean Rivers dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Minggu (2/8/2026). Kunjungan lapangan tersebut menjadi ajang melihat langsung praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berhasil mencegah pencemaran sungai sejak dari sumbernya.
Turut hadir dalam kegiatan itu perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Sampah Laut, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, pemerintah kecamatan dan kelurahan, Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), Mozaik Foundation, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kedatangan rombongan disambut hangat Kader Surabaya Hebat (KSH) bersama warga setempat. Koordinator KSH RW 13, Mujiatiningsih yang juga Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, menjelaskan seluruh sistem pengelolaan sampah di kampung tersebut. Penjelasan disampaikan dalam bahasa Indonesia, sementara para delegasi asing menggunakan perangkat penerjemah sehingga seluruh rangkaian kunjungan berlangsung lancar dan interaktif.
Delegasi diajak meninjau berbagai inovasi lingkungan, mulai dari trash boom di hulu sungai sebagai penghalang sampah terapung, sistem pemilahan sampah rumah tangga, bank sampah, rumah kompos, budidaya maggot, hingga urban farming. Seluruh rangkaian itu dinilai menjadi contoh nyata pengelolaan sampah dari hulu yang mampu mengurangi pencemaran plastik menuju sungai dan laut.
Rombongan juga mengunjungi rumah Yatiyem, salah satu warga yang menjadi teladan dalam pemilahan sampah. Rumah yang disiplin memilah sampah diberi penanda hijau sebagai bentuk apresiasi, sedangkan rumah yang masih perlu pembinaan diberi tanda kuning atau merah.
"Rumah yang bisa memilah sampah dengan baik mendapat reward dan tanda hijau. Sedangkan yang belum maksimal diberikan tanda kuning atau merah sebagai bahan evaluasi," ujar Yatiyem.
Ia menambahkan, hasil penjualan sampah melalui bank sampah turut memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
"Dari hasil bank sampah kami mendapatkan uang yang bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Sebagian juga ditabung untuk kegiatan rekreasi bersama warga," katanya.
Mujiatiningsih menjelaskan, hampir seluruh warga kini telah terbiasa memilah sampah organik, daur ulang, dan residu. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk mendukung urban farming sekaligus dijual, sedangkan sampah daur ulang disalurkan melalui bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi yang kembali dirasakan masyarakat. Sistem penghargaan yang diterapkan juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran warga untuk terus memilah sampah sesuai jenisnya.
Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers, Reinier van der Lely, mengaku terkesan dengan semangat dan inovasi masyarakat Kampung Mozaik dalam mengelola sampah. "Luar biasa dan inovatif," ujarnya.
Menurut Reinier, Surabaya dipilih sebagai salah satu lokasi proyek percontohan bersama UNDP Indonesia karena memiliki komitmen kuat dalam mengurangi sampah plastik melalui kolaborasi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas.
"Kami ingin membangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas sehingga pengelolaan sampah di Surabaya semakin baik dan pencemaran plastik ke laut dapat dicegah," katanya.
Suasana kunjungan semakin hangat ketika anak-anak taman kanak-kanak ikut menyambut kedatangan para delegasi. Momen tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan telah ditanamkan sejak usia dini dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Kampung Mozaik Zero Waste Cities. (Red)
