Yayasan Sosial Dharma Warga menggelar perayaan ulang tahun ke-113 sekaligus upacara pemberkatan (titik mata) kepala barongsai baru di gedung pertemuan Jalan Sulung No. 31, (27/5/26). Ratusan tamu undangan dan warga hadir untuk memeriahkan acara tersebut.
Hadir dalam kegiatan ini antara lain Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Mr. Ye Su, Ketua Dewan Pembina Yayasan Bhakti Persatuan Dr. HC. Alim Markus, Ketua Yayasan Bhakti Persatuan Hermawan Santoso, Ketua Koordinator Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya H.A Nurawi, Ketua Yayasan Adi Jasa Pek Sugiarto Pangestu, serta Ketua Dewan Pembina Sugijanto Tjandra, Ketua Yayasan Sosial Dharma Warga Aneng, para pengurus, anggota, dan perwakilan komunitas Tionghoa lainnya.
Acara dimulai pukul 10.00, para hadirin berdiri mengheningkan cipta mengenang warga Lubei yang telah wafat. Dalam sambutannya, Aneng menyampaikan bahwa yayasan ini didirikan para perantau asal Guangdong pada awal abad ke-20. Selama 113 tahun, yayasan ini terus menjunjung semangat persatuan dan saling membantu, serta aktif dalam kegiatan sosial dan pelestarian budaya Tionghoa. Pada perayaan kali ini, terdapat tiga fokus utama, yaitu menghidupkan kembali tim barongsai, membagikan 700 paket bantuan, serta mengenang perjalanan panjang organisasi.
Ketua Dewan Pembina Sugijanto Tjandra dalam pidatonya menelusuri sejarah organisasi sejak berdiri pada tahun 1913, yang sempat terhenti akibat perang dan perubahan situasi, lalu bangkit kembali. Sejak hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok pulih pada tahun 1990, kegiatan yayasan kembali berkembang dan terus berfokus pada pelayanan sosial yang nyata.
Hermawan Santoso menyampaikan apresiasi atas perkembangan yayasan dari 22 anggota awal menjadi hampir 1.000 anggota saat ini, serta berharap yayasan terus berkontribusi bagi masyarakat dan pelestarian budaya. Dr. HC. Alim Markus juga memuji konsistensi yayasan dalam kegiatan sosial selama bertahun-tahun.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal Ye Su menegaskan bahwa yayasan ini telah berperan penting dalam membantu masyarakat Tionghoa berintegrasi di Indonesia, melestarikan budaya Tionghoa, serta mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan Tiongkok. Ia juga menyoroti bahwa budaya barongsai telah menjadi bagian dari pertukaran budaya kedua negara.
Acara dilanjutkan dengan mengecat titik mata tiga kepala barongsai baru yang dilakukan oleh Mr. Ye Su, Sugijanto Tjandra, dan Aneng. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng serta pembagian simbolis paket bantuan.
Berbagai pertunjukan seperti bela diri, tari, dan nyanyian turut emeriahkan acara. Seluruh hadirin menikmati hidangan yang disediakan oleh panitia. Kegiatan diakhiri pada pukul 13.00 dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Pada kesempatan itu, Aneng menjelaskan bahwa perayaan ulang tahun sengaja digelar di Gedung Yayasan yang sederhana namun sarat nilai sejarah. Dalam acara tersebut juga dipamerkan foto-foto serta dokumentasi perjalanan panjang Yayasan Sosial Dharma Warga sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendiri dan generasi penerus yayasan.
“Di Gedung Yayasan Sosial Dharma Warga terdapat berbagai kegiatan yang terbuka bagi anggota maupun masyarakat, seperti latihan barongsai, wushu, line dance, hingga senam pagi. Selain itu, yayasan juga rutin mengadakan kegiatan bakti sosial,” jelas Aneng, generasi kedua penerus yayasan. (Red)

