Maha Vihara Majapahit di Desa Bejijong, Mojokerto, menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan di Jawa Timur yang memadukan budaya Jawa dan Tionghoa. Vihara ini dikenal memiliki ikon Patung Buddha Tidur Emas yang tercatat oleh MURI sebagai patung Buddha tidur terbesar di Indonesia. Dalam rangka memperdalam mata kuliah Pemahaman Lintas Budaya, mahasiswa D4 Destinasi Wisata Universitas Airlangga (Unair) melakukan kunjungan akademik ke lokasi tersebut.
Melalui kegiatan kuliah lapangan ini, mahasiswa mempelajari warisan budaya Majapahit dan peran Buddhisme dalam sejarah Nusantara. Mereka juga mengamati desain vihara, patung Buddha tidur, serta elemen arsitektur khas yang menjadi daya tarik wisata religi. Selain itu, mahasiswa dilatih untuk menilai potensi destinasi dari sisi daya tarik, aksesibilitas, amenitas, kelembagaan, hingga strategi pengelolaan wisata berbasis budaya dan agama yang berkelanjutan.
Tidak hanya melakukan observasi, mahasiswa juga berdialog langsung dengan lima biksu asal Thailand yang tengah melakukan kunjungan ke empat vihara di Jawa Timur dalam misi jejaring keagamaan Thailand–Indonesia. Salah satu biksu, Thong, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk bertukar ilmu dan pengalaman antarsesama komunitas Buddhis di Indonesia dan Thailand.
Dosen pengampu mata kuliah, Upik Noviyanti, S.Ant., M.A., menjelaskan bahwa pemahaman lintas budaya sangat penting dalam industri pariwisata karena wisatawan datang dengan latar budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda. Menurutnya, pemahaman tersebut diperlukan untuk menciptakan pengalaman wisata yang positif, mencegah gegar budaya, meningkatkan kualitas pelayanan, serta membangun citra destinasi yang baik.
Maha Vihara Majapahit sendiri dibangun sejak 1987, sementara Patung Buddha Tidur Emas mulai dibuat pada 1993. Patung berwarna emas tersebut memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter. Letaknya berada di tengah kolam ikan di area selatan vihara dan menggambarkan Siddhartha Gautama saat wafat.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai kehidupan biksu di Thailand. Dosen pendamping kegiatan, Dr. Sri Endah Nurhidayati, mengungkapkan bahwa pendidikan Buddhis di Thailand menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa, baik Buddhis maupun non-Buddhis. Materi yang diajarkan meliputi meditasi, etika, ritual, hingga filsafat. Melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi dalam mengidentifikasi komponen pariwisata pada destinasi wisata religi sekaligus memahami segmen pasar yang sesuai.
