SURABAYA – Semangat kebersamaan dan keberagaman mewarnai Buddhayana Run 2026 5K bertema “Stronger in Diversity” di Caribbean Grande, Pakuwon City, Surabaya, Minggu (30/8/2026). Sebanyak 1.500 peserta ambil bagian dalam kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB tersebut.
Buddhayana Run 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Peserta dari berbagai agama turut bergabung dan berlari bersama dalam suasana penuh kebersamaan.
Ketua Panitia Buddhayana Run 2026, Sukina, menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, donatur, serta berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Ia berharap Buddhayana Run dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang dengan jumlah peserta dan semangat kebersamaan yang semakin besar.
Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), Amin Untario, ST, mengatakan Buddhayana Run 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di delapan kota yang mencakup sembilan provinsi. Surabaya menjadi salah satu kota penyelenggara sekaligus lokasi penutup rangkaian kegiatan tahun ini.
Menurut Amin, keberhasilan kegiatan tersebut tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mampu menyelesaikan rute lari. Bagi panitia, kehadiran dan semangat peserta untuk berolahraga bersama jauh lebih penting.
“Yang terpenting adalah kebersamaan. Ada yang berlari penuh, ada yang berlari sambil berjalan, bahkan ada yang berjalan sampai garis akhir. Tidak menjadi masalah. Yang kami harapkan, semangat untuk hidup sehat dan kebersamaan ini dapat terus berlangsung,” ujar Amin.
Ia menambahkan, semangat keberagaman menjadi pesan utama yang ingin dibawa melalui Buddhayana Run. Peserta tidak hanya berasal dari umat Buddha, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama, seperti Islam, Katolik, Kristen, Konghucu, dan Hindu.
“Dengan tema Stronger in Diversity, kita hadir bukan hanya karena latar belakang agama, tetapi untuk bergandeng tangan dan bersama-sama mewujudkan tubuh yang sehat. Untuk menjaga kesehatan, mau tidak mau kita harus berolahraga,” katanya.
Buddhayana Run juga mencatat capaian tersendiri. Dalam penyelenggaraannya, kegiatan tersebut meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Lomba Lari Secara Seri dengan Peserta Terbanyak di Indonesia.
Amin mengatakan, penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Buddhayana Run yang terus berkembang. Tahun sebelumnya, kegiatan digelar di lima kota dengan jumlah peserta sekitar 10.000 orang. Tahun ini, pelaksanaannya diperluas menjadi delapan kota di sembilan provinsi dengan total peserta sekitar 12.000 orang.
“Dari tahun ke tahun jumlah pesertanya terus meningkat. Kami berharap tahun depan kegiatan ini dapat kembali digelar dengan jumlah peserta yang lebih besar dan memberikan manfaat yang semakin luas,” ujarnya.
Di Surabaya sendiri, suasana kegiatan berlangsung semarak. Setelah menyelesaikan rute 5K, seluruh peserta mendapatkan medali sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Panitia juga menyediakan kue, pisang, dan minuman bagi peserta.
Tidak berhenti pada aktivitas lari, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pelepasan ikan di sungai. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pesan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus melengkapi semangat kebersamaan yang diusung dalam Buddhayana Run.
Panitia turut memberikan hadiah uang kepada para pemenang lomba lari kategori putra dan putri untuk juara pertama, kedua, dan ketiga. Sejumlah stan makanan juga berjajar di area kegiatan dan turut menambah kemeriahan acara.
Buddhayana Run 2026 di Surabaya akhirnya bukan sekadar perlombaan untuk mencapai garis finis. Lebih dari itu, kegiatan ini mempertemukan masyarakat dalam semangat hidup sehat, kepedulian lingkungan, dan keberagaman. Semangat tersebut menjadi pesan utama dari tema Stronger in Diversity: berbeda latar belakang, tetapi tetap dapat berlari dan bergerak bersama. (Red)
